Mentari Kehidupan
Pagi
yang indah dimana matahari mulai menampakan dirinya dan suara ayam berkokok
membangunkan penghuni sebuah rumah. Seorang anak perempuan yang pertama kali
bangun membukakan jendela sambil merasakan udara sejuk yang berasal dari luar,
dilanjutkan dengan membangunkan adik-adiknya yang masih tertidur nyenyak.
“ Adik-adik bangun! hari yang indah
sudah dimulai” ucap seorang kakak sambil
mengelus rambut adik-adiknya yang masih tertidur lelap
“
Kak aku masih ngantuk, lagian inikan hari minggu berarti sekolah libur” sahut
salah satu adik sambil menarik selimut senutupi kepalanya
“
Tapi kalian harus bangun, kita harus jadikan hari libur sekolah ini bermanfaat”
balas seorang kakak sambil menyemangati adik-adiknya
“
baiklah kak kita akan bangun, dan mari kita jadikan hari libur sekolah ini
menjadi menyenangkan” jawab adik-adiknya dengan penuh semangat
Setelah adik-adiknya berhasil
dibangunkan, dia ingin mereka berkerja sama membereskan rumah dengan
membagi-bagi tugas. seperti membereskan tempat tidur, menyapu, mencuci sedangkan
dia sendiri kebagian untuk memasak.
“Sekarang
semua telah bangun, bagaimana kalau kita bagi-bagi tugas untuk membereskan
rumah agar kita bisa nyaman tinggal dirumah ini” ajak seorang kakak
“
Aku setuju kak, mari kita lakukan sekarang” perkataan setuju terlontar dari mulut
adiknya
Memang
benar dia dan adik-adiknya menjadikan hari libur yang bermanfaat. Harumnya
masakan sudah tercium hingga ruang depan, adiknya yang sudah selesai dengan
tugasnya sudah tidak sabar untuk menyantap masakan yang dibuat kakaknya. Hingga
akhirnya masakan sudah tersedia diatas tikar mereka makan bersama dan merasakan
kebahagiaan walaupun kehidupan yang mereka jalani penuh dengan kesederhanaan
yang kadang mereka merasakan kepahitan dalam hidupnya.
Seorang
anak perempuan yang menjadi kakak dari adiknya duduk dikelas lima sekolah dasar
dimana seharunya dia sudah duduk dikelas dua sekolah menengah pertama, tapi
karena dia berhenti ketika kelas satu sekolah dasar jadi dia tertinggal oleh
teman-temannya dia bernama Asnawati.
Hari
sudah berganti dimana hari senin adalah hari kembali melakukan kegiatan
sekolah, sejak pagi Asnawati sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi sekolah,
dia juga membantu menyiapkan pakaian seragam dan alat sekolah lainnya untuk
adiknya. Salah satu adik Asnawati yang bernama Mia duduk di kelas lima sekolah
dasar juga berarti Mia sekelas dengan kakaknya. Namun tidak ada rasa malu
sedikit pun antara Asnawati dan Mia walaupun mereka berada dikelas yang sama.
Sebelum berangkat sekolah mereka sarapan bersama walupun hanya dengan makanan
seadanya yaitu berupa nasi dan telor ceplok, mereka tetap menikmatinya. Setelah
semuanya siap untuk sekolah Asnawati dan Mia perpamitan kepada bapaknya yang
sedang duduk diteras rumah sabil menghirup udara pagi disekitar yang ditemani
dengan secangkir kopi buatan salah satu anaknya.
“Pak,
Asna dan Mia pamit untuk pergi kesekolah ya” ucap Asnawati menghampiri bapanya
“
Ya nak, kalian hati-hati dijalan dan belajar yang rajin semoga kau pulang
membawa ilmu yang bermanfaat” jawab bapak dengan nasehat untuk Asnawati dan Mia
“
Baik pak, kita akan belajar dengan rajin” ucap Mia membalas nasehat dari bapak
“
Assalamualaikum pak” ucap salam dari Asnawati dan Mia sambil menyodorkan tangan
secara bergantian
“
Walaikumsalam nak” jawab salam dari bapak sambil menerima salam tangan dari anak-anaknya
Asnawati dan Mia pergi berangkat
kesekolah. Sedangkan Ebet adik mereka bersama bapaknya dirumah. Ebet adalah
anak terkecil bapak sekaligus adik dari Asnawati dan Mia. Ebet yang masih
berusia lima tahunan diurus oleh bapak dan kakak-kakaknya, dia tidak merasakan
kasih sayang seorang ibu sejak dia berusia satu tahun. Begitu juga Asnawati dan
Mia, namun mereka cukup lama serasakan kasih sayangnya seorang ibu dibandingkan
dengan Ebet adik bungsunya. Bapak yang menggantikan posisi seorang ibu untuk anak-anaknya,
mengurus mendidik dan menasehati itulah tugas lain seorang bapak selain mencari
nafkah untuk kehidupan keluarganya.
Keramain anak-anak yang seusianya
sedang bermain terlihat oleh Ebet yang hanya bisa berharap banwa dia bisa bergabung
bermain dengan mereka. Tapi apa boleh buat Ebet tidak bisa mewujudkan
harapannya karena anak-anak tersebut tidak mau Ebet menjadi teman mereka
dikarenakan penampilan Ebet yang alakadarnya kucel seperti tidak terus. Berbeda
dengan mereka yang sangat dimanja dan diperhatikan oleh orang tuanya.
Ebet menangis dan berpergi memeluk
bapaknya dia mencurahkan semua rasa dengan air mata yang tak henti henti terus
keluar dari matanya. Bapak hanya bisa menasehati bahwa walaupun tidak ada teman
yang mau bermain bersamanya , Ebet masih punya kakak-kakak yang sayang padanya,
Ebet juga bisa bermain dengan kakak-kakaknya. Setelah mendengar nasehat bapak
Ebet mengusap cucuran air mata dan mulai tersenyum berterima kasih kepada bapak
karena selalu memberikan nasehat terbaik dan membuat Ebet tidak sendirian dan tidak
miliki teman karena Ebet memiliki bapak dan kedua kakak yang selalu sayang dan
menghibur dirinya.
Treng, bel pulang sekolah berbunyi
tanda pelajaran berakhir semua murid menggendong tas dan beranjak pergi keluar
untuk pulang. Asnawati dan Mia yang masih melaksanakan piket kelas dan mendapat
omongan dari beberapa teman sekelasnya yang masih berada bersamanya didalam
kelas.
“
Hei adik kakak yang malang, bersihkan kelasnya yang bersih jangan hanya sekedar
menyapu tapi jangan lupa kalian pel juga!” ucap Tiara salah satu temannya yang
selalu menjadi pemimpin kelas
“
Hahahaha….., betul tuh kata Tiara jangan malas-malasan kalau piket kelas tuh
bersihkan semuanya jangan sampai ada yang terlewatkan tidak kalian bersihkan” sorak teman-teman segengnya Tiara
“
ayo kita pulang biarkan dua anak malang ini melanjutkan piketnya” ucap Tiara
mengajak teman segengnya pulang
Setelah
tiara dan gengnya pulang, Asnawati dan Mia melanjutkan piket dan setelah selesai mereka berdua pulang kerumah.
Diperjalanan menuju pulang Mia mengeluh kepada kakaknya Asnawati bahwa dia
tidak terima ada yang mengejek seperti yang dilakukan Tiara dan teman segengnya tadi. Namun Asnawati hanya
dapat memberi nasehat kepada Mia bahwa kita harus tetap tegar dengan ejekan
maupun omongan orang lain kepada kita seperti yang dilakukan Tiara dan gengnya.
Walaupun mereka menggangkap kita orang yang lebih rendah darinya tapi kita
adalah orang yang sejajar dengan mereka dihadapan-Nya. Akhirnya Mia merasa lebih
tenang setelah mendengar perkataan kakaknya itu.
Sepanjang perjalanan mereka
mengobrol hingga tak terasa mereka hampir sampai dirumah. Masih dari kejauhan
Asnawati melihat bapak dan Ebet yang sedang duduk diteras rumah sambil asik
mengobrol, mereka berdua berlari dan menghampiri bapak dan adiknya.
“ Assalamualaikum bapak Ebet” ucap
Asnawati dan Mia
“ Walaikumsalam, kalian sudah
pulang” jawab bapak
“ Iya pak, kami sudah pulang dan
kami sudah belajar dengan baik sesuai nasehat bapak tadi pagi, hehehe” ucap Mia
sambil bercanda mengulang ucapan bapak
tadi pagi
“
Dasar kamu Mia bisa saja mengulang ucapan bapak” jawab bapak sambil mengusap
kepala Mia
Asnawati
yang mendengar perbincangan Mia dan bapak sambil memerhatikan adiknya Ebet yang
seperti sudah menangis. Asnawati menanyakan perihal apa yang terjadi pada Ebet
kepada bapaknya.
“
Pak, apa yang terjadi pada Ebet sepertinya dia sudah menangis” Tanya Asnawati
kepada bapaknya
“
Iya memang dia sudah menangis” jawab bapak
Dan
bapak menjelaskan bahwa Ebet tadi menangis karena dia merasa tidak dapat
mewujudkan harapan yang selama ini dia harapkan yaitu bisa bermain dengan
anak-anak yang seusia dengannya, itu terjadi karena anak-anak tersebut tidak
bisa menerima Ebet dengan penampilannya yang serba sederhana. Namun bapak
menambahkan penjelasan kepada Asnawati bahwa dia tidak perlu khawatir karena
Ebet sekarang sudah tidak memikirkan itu lagi dan bapak sudah memberikan
nasehat kepada Ebet bahwa walaupun Ebet tidak bisa bermain dengan teman-teman
tapi dia masih bisa bermain dengan kamu Asna dan Mia dan untungnya Ebet merasa
senang mendengar perkataan itu.
Asna
yang tadinya merasa khawatir kepada Ebet setelah mendengar penjelasaan bapak
rasa khawatir itu hilang, namun Asna merasa kasihan kepada Ebet karena dia
tidak bisa bermain selayaknya seperti anak-anak yang lainnya.
Setelah
pembicaran dengan bapak selesai Asna izin masuk kerumah untuk ganti pakaian. Kemudian
Asna akan mengerjakan pekerjaan rumah yang belum dikerjakan dengan bantuan
adiknya Mia sedangkan Ebet juga ingin menbantu, namun Asna melarangnya karena
Asna tidak mau Ebet mengerjakaan pekerjaan yang bukan tugannya. Dengan penuh
semangat dan sungguh-sungguh dalam melakukannya, akhirnya pekerjaan rumah telah
selesai dikerjakan oleh Asna dan Mia. Mereka berencana untuk mengajak bermain
Ebet dan Ebet pun senang karena ada yang mau bermain dengannya walaupun dia
hanya Kakaknya.
Halaman
rumah terdengar begitu ramai dengan suara tawa mereka. Senyuman manis terpancar
dari bapak yang ternyata sedang memerhatikan mereka bermain dengan gembira.
Namun rasa sedih itu datang ketika suasana senang tercipta, bapak teringat ibu
dari anak-anaknya yang sudah lama pergi, terkadang terlintas dalam pikiran
bapak untuk mencari pengganti ibu untuk anak-anaknya tetapi mungkin bapak belum
bisa memberitahu anak-anak bahwa bapak akan mencari ibu baru untuk mereka.
Sudah sekitar satu jam lebih rasa lelah
itu datang, satu persatu mulai berhenti dari permainan hingga terakhir Ebet
yang memang merasakan paling lelah. Mereka bertiga beristirahat dan mulai
bergantian untuk mandi. Kondisi rumah yang cukup layak untuk ditempati dengan
tanpa adanya listrik mandi pun mereka harus menggumpulkan airnya terlebih
dahulu dengan menimba disumur. Namun mereka tidak pasrah dengan kehidupannya
yang serba cukup bahkan rasa semangat itu selalu ada pada diri mereka, mulia
dari semangat sekolah, bekerja samapai semangat merubah kehidupan menjadi lebih
baik.
Pagi hari Asna bangun dan melakukan
aktivitas seperti biasa yaitu bersekolah bersama dengan Mia. Namun hari ini
Asna dan Mia membawa dagangan es milik tetangganya untuk dijual sebagai
tambahan pemasukkan uang. Ejekan-ejekan itu selalu datang kepada Asna dan Mia
tetapi mereka hanya bisa diam tak memikirkan dan mendengar apa ejekkan teman-temannya itu. Setelah jam
istirahat tiba mereka berkeliling
disekitar lingkungan sekolah menawarkan es dagangannya kepada teman-temannya
terkadang juga anak- anak ada yang menghampiri untuk membeli bahkan guru-guru pun ada beberapa yang
tertarik untuk membeli juga.
“ Asna Mia, ibu mau beli beberapa
esnya” sahut ibu Fatimah salah satu guru
“ Baik bu, kami segera kesana” jawab
Asna, sambil mereka menghampiri bu Fatimah yang ada di depan ruang guru
“ Ada es rasa apa aja nih?” Tanya bu
Fatimah
“ Ada rasa coklat,vanilla,stroberi,
dan melon bu” jawab Mia
“ Hmm, ibu mau beli masing-masing
rasa dua ya” ucap bu Fatimah
“ Baiklah bu, kita masukkan kantung
ya” ucap Asna
“ Iya, jadi totalnya berapa?” Tanya
bu Fatimah
“ Total semuanya 10.000” jawab Asna sambil memberikan
sekantung es kepada bu Fatimah
“ Terimakasih ya Asna Mia, semoga dagangan esnya
cepat habis” ucap bu Fatimah sambil memberikan uang kepada Asna
“ Terimakasih kembali bu” jawab Asna
dan Mia
Tanpa banyak bertanya bu Fatimah
kembali kedalam ruang kantor karena bu Fatimah sudah tahu bagaimana kondisi
kehidupan Asna dan Mia sampai-sampai mereka berjualan sambil sekolah.
Waktu istirahat telah berakhir mereka yan sedang berjualan
bergegas kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Asna dikenal sebagai
anak yang pintar dan cerdas, dia selalu mendapatkan peringkat ke satu
dikelasnya begitu juga dengan adiknya Mia yang selalu berada dibawah peringkat
kakaknya, kakak adik itu selalu belomba-lomba mendapatkan nilai terbaik tak
peduli dengan teman-teman yang tidak suka kepada mereka.
Pelajaran berakhir guru keluar
meninggalkan kelas dan anak-anak mulai berlarian keluar untuk pulang begitu
juga dengan Asna dan Mia. Sepulang sekolah diperjalanan mereka berhenti sejenak
untuk menghitung uang hasil berjualannya, kemudian pergi menuju kerumah pemilik
es untuk menyetorkan hasil dagangannya dan mereka diberi setengahnya dari uang
itu sebagai upah.
“ Assalam’mualaikum bu” ucap Asna
dan Mia
“Waalaikumsalam, oh kalian Asna Mia”
jawab bu Rika pemilik dagangan es
“ Ibu kami kesini mau menyetorkan
hasil dagangan kami, ini uangnya” ucap Asna sambil memberikan uang kepada bu
Rika
“
Iya terimakasih kalian hebat bisa manghabiskan dagangan es ini, dan ini uang
untuk kalian” ucap bu Rika
“ Sama-sama bu, terimakasih kembali besok seperti
biasa kami kembali menjual dagangan ibu” ucap Asna sanbil menerima uang
pemberian bu Rika
“ Baik besok ibu siapkan kembali” ucap bu Rika
“ kami pamit bu, Assalammualaikum” ucap Asna dan Mia
“Waalaikumsalam” jawab bu Rika
Sudah
sekitar beberapa bulan yang lalu mereka menjual dagangan bu Rika, bu Rika
senang karena Asna dan Mia bisa menjual dagangannya dengan baik dan
mendatangkan keuntungan untuk dirinya juga Asna dan Mia.
Mereka
kemudian pulang dan sesampainnya dirumah mereka mencari bapak dan Ebet karena
tidak ada rumah, padahal mereka tidak suka pergi kemana-mana tapi sekarang
mereka tidak tahu kemana. Setelah selesai berganti pakaian. Asna dan Mia
mencari bapak dan Ebet kesekitar rumahnya ternyata bapak sedang mencari kayu
bakar karena persediaan kayu bakar didapur sudah habis dan dibantu oleh
Ebet.
“
Pak kami mencari bapak ternyata bapak ada disini bersama adik” ucap Mia
“
Iya bapak disini lagi cari kayu bakar bersama Ebet” jawab Bapak
“
Kita bantu ya pak” ucap Asna menawarkan bantuan kepada bapak
“
tidak usah kalian dirumah saja” jawab bapak menolak tawaran Asna
Walaupun bapak tidak mau Asna dan
Mia membantunya dan malah memerintahkan mereka menunggu dirumah saja, tapi
mereka malah pergi kekebun untuk mencari tumbuhan yang bisa diolah untuk
dijadikan makan sebagai temannya nasi. Mereka menemukan daun singkong dan
memetik beberapa daun untuk dimasak. Setelah terkumpul lumayan banyak mereka
kembali kerumah dan langsung menuju dapur untuk membuat sayur daun singkong
dari hasil memetiknya tadi. Bapak dan Ebet yang sudah selesai mencari kayu
bakar beristirahat sambil menunggu masakan yang dibuat Asna dan Mia. Kemudian
mereka makan bersama setelah semuanya selesai dimasak.
Hari mulai gelap siang telah
berganti malam aktivitas hari ini telah berakhir dengan sangat lelah namun rasa
lelah datang bersama senang. Ebet yang lebih dulu tidur, sedangkan Bapak,Asna,
dan Mia masih menggobrol diruang depan.Bapak yang ingin mengatakan sesuatu
masih menunggu waktu yang tepat, kata yang ingin diucapkan diganti terlebih
dahulu dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana kegiatan sekolah Asna
dan Mia. Pertanyaan dan jawaban mereka lontarkan, ditambah dengan tawa yang
membuat suasana obrolan menjadi menyenangkan hingga lupa bahwa waktu sudah
larut malam. Namun bapak meminta sedikit waktu untuk mengucapkan kata yang tadi
tak sepat diucapkan, Asna dan Mia dengan senang hati mendengarkan bapak
berbicara tak lebih yang bapak ucapkan adalah meminta izin dan restu untuk
bapak menikah lagi dengan wanita pilihannya yang akan menggantikan posisi ibu
yang sudah lama tiada dan menjadi ibu baru untuk mereka.
“
Nak sudah sekian lama kalian hidup tanpa rasa kasih sayang seorang ibu, hanya
kasih sayang seorang bapak yang kalian dapatkan. Sekarang bapak meminta izin
untuk menikah lagi agar kalian bisa mempunyai ibu baru yang kalian bisa
dapatkan kasih sayangnya” ucap bapak kepada kedua anaknya
Setelah
mendengar perkataan bapak itu,mereka terdiam tak sepatah kata pun keluar dari
mulut mereka kemudian mereka meninggalkan bapak yang sedang duduk menunggu
jawaban. Tersisa bapak yang masih belum tidur ,duduk menyendiri sambil
memikirkan lontaran perkataan yang diucapkan kepada kedua anaknya. Tapi masih
yakin dengan rencananya untuk menikah lagi, bapak berencana untuk mengatakannya
lagi pada anak-anaknya apa pun tanggapan
mereka bapak akan memohon mereka untuk tetap menerima rencananya. Karena sudah
tak ada lagi yang harus dipikirkan bapak beranjak ke kamar untuk tidur.
Keesokan
harinya bapak mulai masuk lagi untuk bekerja karena sudah libur beberapa bulan.
Hari pertama kembalinya bekerja bapak berpamitan kepada anak-anaknya, Asna dan
Mia yang masih kesal kepada bapak karena keinginannya untuk menikah lag,i tidak
senang bahwa bapak bekerja kembali malah mereka tak peduli. Namun bapak
mengerti apa yang anak-anaknya rasakan yaitu kecewa kepadanya karena mereka
menggangkap bahwa bapak sudah melupakan ibu yang memang benar-benar telah
tiada.
Setelah
bapak berangkat Asna dan Mia bolos sekolah karena mereka khwatir dan kasihan
kepada Ebet jika ditinggalkan sendiri dirumah. Akhirnya mereka pergi kekebun
milik orang lain untuk mengumpulkan kelapa kering yang berjatuhan untuk dijual kepada
tetangganya. Mereka sudah mendapat izin
dari pemilik kebun untuk mengambil kelapa-kelapa yang berjatuhan saja tidak
dengan kelapa yang masih berada dipohon. Setelah terkumpul beberapa kelapa,
mereka membawa kelapa itu kepada tetangganya yang sudah memesan harga satu
kelapa tak seberapa yaitu hanya 1000 rupiah, tapi mereka menerimannya dengan
ikhlas berapa pun harganya.
Mereka pulang setelah selesai menjual
kelapa. Diperjalanan pulang banyak anak-anak yang sedang jajan namun rasa ingin
jajan pada diri Asna,Mia dan Ebet tidak ada melainkan mereka hanya ingin
disetiap harinya mereka bisa makan.
Hasil dari penjualan kelapa bisa
dbelikan lauk untuk makan malam nanti, mereka memasak bersama saling membantu
dan membagi-bagi tugas.Sambil menunggu bapak datang, Asna ingin membuat
persetujuan dengan Mia apakah mereka harus menerima bapak menikah lagi atau
menolak bapak menikah lagi. Duduk agak jauh dari Ebet yang sedang bermain
mobil-mobilan karena tidak ingin Ebet terlibat dalam pembicaraan, Asnalah yang
memulai obrolan.
“Dek
bagaimana pendapatmu mengenai rencana bapak menikah lagi?” Tanya Asna kepada Mia
“
Hmm, menurut aku sih bagaimana kalau kita setuju saja bapak untuk menikah lagi”
jawab Mia
“
Iya sih ya kalau kita setuju kitakan punya ibu baru, tapi yang menjadi alasan
kakak tidak setuju kakak takut ibu baru itu engga sayang sama kita” ucap Asna
“
Kakak percaya bukan sama bapak? Bapak tidak mungkin memilih ibu baru yang tidak
sayang sama kita, bapak pasti memilih ibu baru yang sayang dan terbaik untuk
kita semua” jelas Mia sambil menyakinkan Asna
“
Kalau kamu yakin kakak juga yakin, dan kakak akan coba menerima ibu baru
pilihan bapak” jawab Asna
“
Iya kak, kita harus yakin dan percaya itu” balas Mia sambil tersenyum kepada
kakaknya
Ebet
yang ditinggalkan oleh Asna dan Mia masih bermain dengan mobil-mobilannya,
mereka berdua menghampiri Ebet kembali, dan Asna yang melihat kearah jam yang
saat itu sudah menunjukkan pukul 17:00 sore menunggu bapak yang tak kunjung
pulang. Padahal mereka akan memberi jawaban setuju mengenai rencana bapak untuk
menikah lagi.
Hari
berganti malam suara adzan magrib berkumandang, mereka yang masih menunggu
bapak pulang beranjak untuk melaksanakan salat magrib berjamaah. Disetiap do’a
yang mereka panjatkan terselip do’a untuk sang bapak agar pulang dengan selamat
karena kekhawatiran selalu datang pada mereka. Terdengar suara yang memanggil
dari luar, ternyata bapak datang dengan membawa seseorang yaitu calon istrinya yang
akan diperkenalkan kepada anak-anaknya.
Kemudian
dipersilahkan masuk dan duduk oleh Asna kepada calon ibunya itu. Duduk menunggu
Asna yang sedang berbicara dengan bapak di ruang belakang sedangkan adiknya Mia
menyiapkan minuman dan makanan yang akan dihidangkan diruang depan. Perkataan
Asna dimulai dengan meminta maaf atas kejadian beberapa hari lalu yang tak sempat
menjawab perkataan bapak, kemudian dilanjutkan dengan kata bahwa Asna dan
adik-adiknya sudah berunding dan memikirkan bahwa akan menerima bapak untuk
menikah lagi dan mereka siap untuk memiliki ibu baru. Mendengar ucapan Asna
bapak mersa sangat senang, selanjutnya mereka pergi keruang depan dan duduk
berkumpul sambil berbincang-bincang.
“
Akhirnya ini waktu dimana kita semua bisa berkumpul dan membicarakan awal dari
kehidupan kita dengan datangnya orang baru dirumah kita yang akan menjadi
bagian dari keluarga kita semua” ucap bapak memulai obrolan
“
Terimakasih semuanya dengan kedatangan saya hari ini bisa langsung diterima
dengan baik oleh kalian semua, semoga kita bisa menjadi keluarga yang bahagia,
berlimpah kasih sayang antar sesama anggota keluarga dan seterusnya kita dalam
lindungan-Nya” ucap ibu Ani yang
merupakan calon ibu baru dan istri bapak
“
Terima kasih pa, bapak telah memilih ibu yang baik untuk kita semua. Dan untuk
ibu terimakasih juga karena mau menjadi anggota keluarga kita” ucap Asna dengan
senang karena mungkin ini adalah awal kebahagian yang akan terus ada dalam
hidupnya
“
Dan bapak meminta doa, izin, dan restu kalian karena bapak berencana akan
menikahi ibu minggu depan, semoga bisa terlaksana dengan baik ” ucap bapak
“
Iya pak, kami semua selalu mendoakan yang terbaik untuk bapak” jawab Asna Mia
dan Ebet
Waktu terus berputar, malam
bertambah larut ibu Ani izin untuk pulang karena dia telah meninggalkan
anak-anaknya dirumah. Kemudian bapak mengantarkan ibu hanya sampai ibu naik mobil
angkot. Bapak kembali kerumah setelah mobil angkot yang ditumpangi ibu Ani
berangkat.
“Alhamdulilah
ya nak pertemuan kita dengan ibu Ani berjalan dengan lancar walaupun sederhana,
dan bapak tidak memberitahu kalian terlebih dahulu perihal rencana ini tapi
untungnya kalian sudah memikirkan untuk menerima ibu Ani” ucap bapak
“
Iya pak sekarang kita tinggal mempersiapkan kedepannya, dan inikan sudah malam sebaiknya
bapak mandi dan makan kemudian dilanjutkan istirahat. Kami tidur duluan ya pak”
ucap Asna sambil izin untuk tidur duluan bersama adik-adiknya
“
Baiklah bapak akan mandi terlebih dahulu, dan kalian silahkan tidur” jawab
bapak
Anak-anak
tidur begitu pula dengan bapak yang sudah selesai mandi dan makan. Bapak senang
memikirkan hal tadi, dan siap untuk memulai hari esok yang cerah.
Pagi
yang cerah telah datang, seperti biasa bapak berangkat bekerja sedangkan Asna dan Mia masih bolos sekolah karena
adiknya Ebet yang sendiri jika mereka pergi kesekolah. Sebenarnya sebelum bapak
berangkat sempat bertanya kepada Asna dan Mia mengapa mereka terus bolos
sekolah, dan mereka menjawab dengan Ebetlah sebagai alasan mereka bolos
sekolah. Sempat marah karena mereka sudah sering bolos, akhirnya bapak menahan
amarahnya dan pergi bekerja meninggalkan mereka. Diperjalanan bapak berpikir
bahwa jiga bapak sudah menikah dengan ibu Ani, Ebet tidak akan sendirian lagi
serta Asna dan Mia bisa sekolah kembali tanpa khawatir kepada adiknya.
Karena
mereka tidak sekolah, mereka pergi kerumah tetangga untuk mengaja anak-anaknya
itulah hal yang mereka lakukan jika bolos sekolah dan tidak ada pekerjaan rumah. Sempat beberapa
ucapan tetangga yang mengatakan bahwa mereka malas sekolah dan hanya memikirkan
pekerjaan serta kurang perhatian dari orang tuannya. Mendengar perkataan itu
mereka hanya bisa diam dan menerima walaupun ucapan tetangganya itu tidak
sesuai dengan yang mereka alamai. Karena sudah menjaga anak-anaknya mereka
diberi upah yang tidak seberapa tetapi mereka selalu bersyukur dengan yang
diperolehnya.
Hingga
siang hari yang panas ini mereka kembali pulang.Dari hasil upah yang mereka
peroleh mereka belanja lauk pauk dan memasak untuk mereka makan serta untuk
bapak yang nanti pulang bekerja.
Malam
kembali datang dan bapak pulang tak begitu larut seperti biasanya. Mereka
menyabut bapak dengan gembira sambil menyiapkan makanan untuknya. Bapak senang
anak-anaknya perhatian kepadanya, mungkin beberapa hari lagi kesenangkan itu
bertambah dengan datangnya ibu Ani.
Tak
terasa hari demi hari telah tiba waktunya bapak menikah dengan ibu Ani.
Pernikahan yang sederhana berjalan dengan lancar, doa semoga menjadi keluarga
sakinah mawadah warahmah terucap dengan beribu harapan datang, awal kebahagiaan
yang baru dimulai.
Akhirnya
ibu Ani pindah kerumah bapak dengan membawa dua orang anaknya yang bernama Risa
dan Ali, dimana usia mereka sama seperti Asna dan Ebet. Mereka saling
berkenalan dan saling membantu membereskan barang pindahan. Dan sekarang Ebet
mempunyai teman untuk bermain dengannya yaitu Ali, Asna dan Mia juga mampunyai
sodara baru yaitu Risa. Beberapa barang telah selesai dibereskan, kami semua
beristirahat dan ibu menyiapkan makanan untuka kami santap.
Ditengah
peristirahatan ibu membicarakan tentang perpindahan sekolah Risa, dimana Risa
akan satu sekolah dengan Asna dan Mia. Begitu juga Ebet dan Ali yang akan masuk
sekolah tahun depan. Mereka setuju dengan ucapan ibu dan mereka mulai
mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang.
Malam
hari mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya, walaupun baru beberapa
jam Asna,Mia,Ebet,Risa dan Ali sudah rukun. Ibu dan bapak senang melihat mereka
bisa langsung rukun. Setelah makan malam selesai karena sudah malam mereka
berhentikh beraktivitas dan pergi
kekamar untuk tidur begitu juga ibu dan bapak.
Sedikit
demi sedikit keadaan ekonomi bapak mulai membaik setelah menikah dengan ibu,
rezeki itu selalu datang bersama kebahagiaan. Hari dimana Asna dan Mia kembali
sekolah dan hari pertama untuk Risa bersekolah disekolah barunya, mereka
berpamitan kepada ibu dan bapak. Sesampai disekolah Risa berkenalan kepada
teman-teman barunya dan mulai untuk belajar. Sepulang sekolah Asna dan Mia di
panggil oleh ibu Fatimah, ibu Fatimah bertanya mengenai mereka yang bolos
beberapa hari yang lalu dan memerintahkan mereka untuk tidak bolos kembali, Asna
dan Mia menceritakan alasan mereka bolos sekolah dan meberitahu bahwa mereka
sekarang sudah mepunyai ibu, sehingga mereka berjanji tidak akan menggulangi
bolos sekolah lagi dan ibu Fatimah mengerti serta memegang janji Asna dan Mia.
Karena sudah lama mereka meninggalkan Risa akhirnya mereka kembali kepada Risa
yang sedang menunggu dan mereka berjalan pulang.
Selama
mereka sekolah dan bapak bekerja, dirumah hanya tinggal ibu Ebet dan Ali.
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu yang mengurus semua pekerjaan
rumah beserta menggurus semua anggota keluarganya. Sepulang sekolah mereka
sudah mencium masakan ibu yang sangat harum dan sepertinya masakan ibu sangat
enak. Mereka bergegas berganti pakaian dan dilanjut menemui ibu yang sedang
menyiapkan masakan untuk anak-anaknya.
“Wah….,
harum sekali masakan ibu dan sepertinya tidak kalah juga lezatnya” ucap Risa sambil
mencium harumnya masakan
“
Iya betul kak aku sudah tidak sabar untuk makan” jawab Mia dengan penuh
semangat
“
Betul juga nih kata Risa dan Mia, bagaimana kalau kita mulai makan sekarang?
Apa boleh
bu?” ucap Asna
“
Masa ibu sudah masak untuk kalian ibu melarang kalian makan, ayo dimakan!”
jawab ibu sambil tersenyum memerintahkan anaknya makan
“
Hehehe…., ibu memang yang terbaik untuk kita semua” ucap Asna dan disertai tawa
Risa dan juga Mia
Selanjutnya
mereka makan masakan yang dibuat ibu, ibu memanggil Ebet dan Ali yang sedang
bermain dihalaman untuk bergabung makan. Semua merasakan kebahagiaan namun
kebahagiaan itu kurang karena tidak ada bapak, bapak yang sedang bekerja belum
kunjung pulang. Tetapi ibu bisa menghibur semua anak-anaknya begitulah salah
satu rasa kasih sayang seorang ibu.
Dilanjutkan
dengan berkumpul diruang depan dimana Asna Mia dan Risa mengerjakan tugas
sekolah sedangkan Ebet dan Ali yang melanjutkan bermain sosok ibu selalu ada
disamping anak-anaknya memerhatikan mereka belajar,bermain, menasehati dan
memberi masukan penuh dengan perhatian dan cinta. Hingga tiba saatnya bapak
pulang mereka menunggu kedatangan bapak menyambutnya dengan membuatkan teh,
makanan, hingga air hangat untuk bapak mandi. Ya begitulah kebahagian keluarga
yang bisa dikatakan keluarga baru.
Sudah sekitar satu tahun bapak menikah dengan
ibu. Rasa saling perhatian dan sayang satu sama lain semakin pudar hilang
bahkan tak lagi ada. Yang dulu ibu selalu perhatian kepada anak-anaknya kini
ibu tak lagi begitu. Walaupun sekarang ketiga anak perempuannya yang akan lulus
sekolah dasar dan dua anak laki-lakinya yang akan masuk sekolah tk, rasa peduli
dari ibu hilang. Semenjak ibu dekat dengan seorang laki-laki yang menjadi
temannya dulu.
Suatu
hari yaitu dimana hari kelulusan ketiga anak perempuannya Asna Risa dan Mia,
sekolah mengundang ibu untuk datang menyaksikan mereka lulus diacara perpisahan.
Namun tak disangka ibu yang hendak berangkat bersama dengan anak-anaknya
kesekolah seorang laki-laki yang bernama Agus teman ibu dulu datang menemui
ibu. Langkah mereka berhenti menunggu ibu yang sedang berbicara dengan Agus, tidak
tahu apa yang mereka bicarakan, ibu mengatakan tidak bisa datang ke acara
perpisahan mereka karena ada suatu urusan. Mereka sangat kecewa kepada ibu
karena lebih memilih laki-laki tersebut dibanding datang ke acara perpisahan
mereka. Akhirnya mereka tetap pergi keacara perpisahan tanpa didampingi orang
tua.
Tanpa disangka Asna menjadi juara
umum disekolahnya, suatu kebanggaan yang diperolehnya hanya disaksikan oleh
kedua adiknya Risa dan Mia. Cucuran air mata keluar rasa bahagia dan sedih
datang bersamaan, Asna tetap tersenyum meski orangtua yang diharapkan datang
menyaksikan suatu kebanggaan ini tak ada.
Bapak
yang kini sudah tidak bekerja lagi karena kondisi fisiknya yang semakin lemah
hanya bisa terdiam. Mendengar bahwa anaknya memperoleh predikat juara umum
disekolahnya bapak tersenyum bangga dan bapak berharap anaknya bisa melanjutkan
pendidikan kejenjang selanjutnya. Walaupun itu hanya harapan bapak, guru-guru
Asna membantu mewujudkan harapannya. Tidak banyak pertimbangan karena Asna
adalah anak yang pintar guru Asna memasukkan Asna kesekolah menengah pertama
yang menjadi sekolah favorite, yang mana sekolah itu hanya anak-anak yang
mempunyai banyak uang yang bisa sekolah disana. Tetapi Asna bisa masuk
kesekolah itu karena memperoleh beasiswa. Berbeda dengan Risa dan Mia yang
masih bisa melanjutkan sekolah walaupun disekolah yang biasa. Begitu juga
dengan Ebet dan Ali yang akan masuk tk.
Hari
libur telah tiba mereka menemani bapak yang sedang sakit, sedangkan ibu yang
terus berpergian dengan laki-laki yang bernama Agus. Suatu hari ibu datang
kerumah dan tiba-tiba memasukkan bajunya kedalam koper, tanpa berpamitan kepada
bapak dan anak-anaknya ibu pergi tidak tahu kemana meningggalkan mereka. Asna
dan Risa mendekati ibu mereka berusaha bertanya apa maksud ibu membawa banyak
baju.
“Apa
yang sedang ibu lakukan? Kenapa ibu bawa banyak baju?” Tanya Asna dengan kecewa
“
Sudahlah kamu jangan banyak bertanya, ibu akan pergi jauh karena ibu sudah
tidak peduli dengan bapak kalian yang sudah sakit-sakitan” jawab ibu sambil
marah
“
Tapi ibu harusnya tetap setia sama bapak dan tetap tinggal bersama kami. Kami
mohon ibu jangan pergi” ucapan tegas Risa kepada ibu
Tanya
menjawab ucapan Risa ibu tetap pergi. Bapak hanya terdiam tidak bisa marah
kepada ibu karena sudah tidak mampu lagi untuk berkata-kata bahkan bertindak,
yang mana kondisinya semakin hari semakin melemah anak-anaknya selalu setia
merawat disampingnya. Anak-anaknya menangis dihadapan bapak karena ibu sudah
pergi meninggalkan mereka semua. Tapi dalam kondisi sakit bapak selalu memberi
semangat kepada anak-anaknya agar tetap tegar tanpa ada ibu disisinya. Semangat
dari bapak dapat membangkitkan kekesedihan anak-anak. Asna kembali menjadi yang
bertanggungjawab mengurus adik-adiknya, hal yang berbeda dari sebelumnya adalah
sekarang dia memiliki empat adik dan bapak yang kondisinya sedang sakit.
Cerita
kehidupan Asna dan keluarga berganti. Kini Asna menjadi tulang punggung
keluarga, dia memiliki tanggungan adik-adiknya dan bapak yang harus berobat.
Kondisi ekonomi yang mulai berkurang kembali dia harus bekerja keras dengan
berbagai cara. Asna yang akan masuk sekolah menengah pertama malah merasa
bingung apa yang harus dia prioritaskan sekolah atau bekerja, dia merasa
keduanya sangat penting. Tetapi jika dia melakukan salah satu antara sekolah
dan bekerja, salah satunya juga harus dijadikan korban. Sempat putus sekolah
bapak menasehati Asna bahwa dia harus sekolah tinggi dan gapai cita-citanya
karena Asna adalah salah satu harapan keluarga yang akan mengangkat derajat
bapak. Akhirnya Asna menerima nasihat dari bapak.
Sudah sekitar satu bulan libur sekolah,
kini tahun ajaran berganti. Asna,Mia, dan Risa yang akan menjadi murid baru
serta Ebet dan Ali yang akan memulai hari pertamanya sekolah. Mereka berlima
berpamitan kepada bapak yang mulai duduk walaupun masih tetap lemas.
“
Pak kami semua izin berangkat sekolah” ucap Asna sebagai perwakilan izin
adik-adiknya juga
“
Semoga kalian semua belajarnya dilancarkan dan ilmu yang diperolehnya berkah,
dan kakak-kakaknya jangan lupa antar dulu Ebet dan Ali kesekolahnya” jawab
bapak dengan beberapa nasehat dan perintah
“
Siap pak, kami akan belajar dengan rajun dan antarkan adik terlebih dahulu
kesekolahnya” jawab Asna,Mia dan Risa
Mereka
semua pergi kesekolah ditahun ajaran baru. Walaupun berbeda-beda sekolah,
masing-masing tetap peduli satu sama
lain. Hingga waktunya mereka pulang, sesampai dirumah mereka melihat ibu yang
sudah lama pergi datang bersama laki-laki bernama Agus itu tanpa diketahui
maksud dari kedatangannya berbagai perkataan keluar hingga terjadi keributan.
“
Apa maksud kamu kembali lagi kesini setelah sekian lama pergi” Tanya bapak
dengan tegas
“
Saya kesini untuk meminta cerai kepadamu, dan saya akan membawa anak-anak saya
yang sudah dititipkan kepadamu selama saya pergi” jawab ibu dengan marah
“
Permintaan untuk bercerai akan saya penuhi tetapi rencanamu untuk membawa
anak-anak tak akan saya izinkan” jawab bapak dengan balas marah
“
Siapa kamu beraninya ambil anak-anak saya dan tak izinkan saya untuk membawanya
kembali bersama saya kandungnya” Tanya ibu marah sambil menantang bapak
“
Saya tahu bahwa kamu adalah ibu kandung dari Risa dan Ali. Tapi asal kamu tahu saya
juga adalah bapak mereka, bapak yang menjaga mereka ketika mereka ditinggalkan
oleh ibu kandungnya sendiri” ucap bapak sambil tersenyum sinis kepada ibu
Ketika
keributan antara bapak dan ibu terjadi anak-anak berdiri dibelakang bapak
sambil terdiam meneteskan air mata. Sedangkan Agus laki-laki yang merusak
keluarga dan mengambil ibu dari bapak yang tadinya hanyak menyaksikan keributan
akhirnya dia ikut berbicara.
“
Kamu sebagai mantan suami dari Ani harusnya kamu ikuti saja apa maunya Ani dan
berikan lagi anak-anaknya” ucap Agus sambil marah
“
Kamu yang hanya sebagai orang luar tidak perlu ikut campur dengan urusan kami”
jawab tegas bapak
“
Asal kamu tahu juga saya adalah calon suami Ani dan berarti saya boleh ikut
bicara” ucap Agus dengan sombong
Risa yang diam dibelakang bapak
berlari menuju ketengah-tengah bapak dan ibu berteriak menghentikan keributan.
“
Stop….!, jangan rebut lagi sekarang biarkan aku yang memutuskan aku dan Ali
akan ikut siapa” teriak Risa sambil menangis
“
Ayo sekarang kamu bilang kepada mereka semua bahwa kamu dan adik kamu akan ikut
ibu” ucap ibu dengan memaksa
“
Aku putuskan dan semua keputusanku harap diterima, bahwa aku akan tetap ikut
bapak dan tinggal disini. Untuk ibu maafkan aku karena tidak bisa kembali
bersama ibu lagi” jawab Risa dengan tangisan yang terus keluar dari matanya
“
Dasar kamu anak tidak tahu diri, kamu lebih memilih dia dibanding ibu kandungmu
sendiri” ucap ibu marah
“
Sudah kamu tak usah banyak bicara lagi, pergi dan tinggalkan rumah ini jangan
sampai kamu datang lagi dan membuat keributan kembali” ucap bapak mengusir ibu
“
Baiklah kalau itu pilihan kamu Risa, ibu harap kamu tidak akan menyesal tinggal
bersama bapakmu dalam kesengsaraan ini” ucap ibu sambil pergi meninggalkan
rumah
Akhirnya
ibu pergi keributan berakhir dengan keputusah bahwa Risa dan Ali akan tetap
tinggal bersama bapak. Asna berusaha menenagkan dengan memberi segelas air
putih kepada bapak dan Risa. Bapak meminta maaf karena menyesal sudah memilih
ibu yang akhirnya meninggalkan mereka, dan Asna menerima maaf bapak dan berkata
bahwa bapak tak usah menyesal karena nasi telah menjadi bubur cerita kehidupan
yang buruk harus kita ganti dan mulai
lagi dengan hal yang lebih baik.
Enam
tahun kemudian. Kehidupan keluarga bapak menjadi lebih baik dengan kerja keras
anak-anaknya yang berhasil mengubah nasib dan menggapai cinta-cita. Asna yang
berharap untuk bisa masuk universitas terwujud hingga dia berhasil lulus dengan
kategori mahasiswa terbaik ditahun angkatannya serta adik-adiknya juga telah
berhasil mewujudkan mimpinya. Sebagai seorang bapak dari anak-anaknya yang
telah berhasil merasa bangga dan bersyukur karena telah merasakan kehidupan
yang jauh lebih baik.
End
Komentar
Posting Komentar