Langsung ke konten utama

Kritik Sastra

pengertian kritik Sastra
Kritik sastra dapat diartikan sebagai salah satu objek studi sastra (cabang ilmu sastra) yang melakukan analisis, penafsiran, serta juga penilaian terhadap teks sastra ialah sebagai karya seni. Dibawah ini merupakan pengertian kritik sastra yang dikemukakan oleh para ahli.
Ciri-ciri Kritik Sastra
Bersifat objektif.
 untuk dapat membangun (memperbaiki) karya yang dikritik.
 bahan acuan untuk dapa atau bisat meningkatkan kreativitas pencipta karya tersebut.
Fungsi Kritik Sastra
Untuk perkembangan ilmu sastra sendiri.
 perkembangan kesusastraan.
 penerangan masyarakat
Fungsi Kritik sastra bagi pembaca :
Membantu memahami suatu karya sastra.
 keindahan (estetika) yang terdapat dalam suatu karya sastra.
 parameter ataupun ukuran dalam menilai suatu karya sastra.
 nilai-nilai misalnya pesan moral yang dapat dipetik dari sebuah karya sastra.
Fungsi kritik sastra bagi penulis atau pengarang :
Mengetahui kekurangan atau juga kelemahan karyanya.
 Mengetahui kekurangan atau juga kelebihan karyanya.
 masalah-masalah yang mungkin akan dijadikan tema tulisannya.
Manfaat kritik Sastra
Manfaat kritik sastra bagi penulis:
Memperluas wawasan penulis, baik itu yang berkaitan dengan bahasa, objek atau juga tema-tema tulisan, serta juga teknik bersastra.
 motivasi untuk menulis.
 kualitas pada tulisan.
 Manfaat kritik sastra bagi pembaca:
Menjembatani kesenjangan antara pembaca serta karya sastra.
 kecintaan pembaca terhadapsuatu  karya sastra.
 kemampuan dalam mengapresiasi suatu karya sastra.
 mata hati serta juga pikiran pembaca akan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu karya sastra.
Manfaat kritik sastra bagi perkembangan sastra:
Mendorong laju perkembangan sastra, baik dengan secara kualitatif ataupun kuantitatif.
 cakrawala atau juga permasalahan yang tedapat dalam karya sastra.
Jenis-jenis Kritik Sastra
Kritik Mimetik
             Menurut Abrams, kritik jenis tersebut memandang suatu karya sastra ialah sebagai tiruan aspek-aspek alam.
       2.    Kritik Pragmatik
              Kritik jenis ini memandang karya sastra ialah sebagai alat untuk dapat mencapai sebuah tujuan.
       3.    Kritik Ekspresif
              Kritik ekspresif ini  menitikberatkan pada diri penulis karya sastra itu. Kritik ekspresif tersebut meyakini bahwa sastrawan (penulis) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, serta juga perasaan yang dikombinasikan atau dituangkan kedalam sebuah karya sastra.
      4.     Kritik Objektif
               Kritik jenis ini memandang karya sastra ialah sebagai sesuatu yang mandiri, bebas terhadap lingkungan sekitarnya; dari penyair, pembaca, serta juga dunia sekitarnya.




Contoh Kritik Sastra
Katak Hendak Menjadi Lembu

Penulis : Nur Sultan Iskandar
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun Terbit :1978

Suria seorang Mantri Kabupaten di Sumedang. Sifatnya sombong, gila hormat, serta suka mementingkan diri sendiri dan pemboros. Sebagai Mantri Kabupaten, gajinya tidak berapa besar, tetapi hidupnya menyamai hidup orang yang berpangkat tinggi. Perabot rumah tangganya mahal-mahal, memelihara beberapa pelayan, dan anak-anaknya disekolahkan di HIS dan MULO. Semuanya dapat berjalan hanya karena bantuan ayah mertua yang kaya, Haji Hasbullah, dan juga karena kaum priayi di Jawa Barat pada umumnya beroleh kepercayaan kaum pedagang sehingga mereka dapat hidup dengan membon.
Yang menderita dan menahankan segala kepahitan tentulah istrinya Zubaedah. Dia yang selalu berhadapan dengan penagih utang, dia juga yang mendengarkan buah tutur orang-orang yang mencela kesombongan dan keborosan suaminya. Dia harus selalu menekan perasaan melihat tingkah laku Suria yang sering berlawanan dengan keinginannya.
Perkenalan Suria dengan Haji Junaedi, seorang haji kaya yang tidak dikenalnya, yang mulanya dianggapnya rendah, ternyata membawa akibat buruk baginya. Suria yang pergi berkunjung ke rumah H. Junaedi melihat anak gadis haji itu, lalu ingin mengawini gadis itu. Tetapi pinangan Suria yang dilakukannya tanpa sepengetahuan istrinya ditolak oleh H. Junaedi, malahan anaknya itu dikawinkannya dengan Kosim, teman sekantor Suria yang amat dibencinya. Suria benci kepada Kosim karena Kosim tamatan Mulo dan dianggapnya dapat menyaingi dia dalam kedudukannya di kantor itu. Dugaannya benar karena pangkat klerk yang diincar-incarnya jatuh ke tangan Kosim. Kemudian Suria ingin memperistri anak gadis H. Junaedi dengan maksud kelak dapat mempergunakan kekayaan istrinya untuk menutup utang-utangnya yang telah melilit tubuh itu. Ini pun gagal dan Kosim pulalah yang beruntung.
Karena kecewa, dia ingin berhenti saja dari jabatannya yang sekarang. Diam-diam diambilnya uang kas dari kantornya. Perbuatannya ini ketahuan oleh atasannya. Untunglah Pak Patih, majikannya, masih mau menolongnya. Suria disuruhnya mengganti uang yang telah terpakai olehnya itu dan sesudah itu disuruhnya mengajukan permohonan berhenti saja. Apa boleh buat, Suria terpaksa menyetujui usul majikannya itu. Suria kemudian melelang barang-barangnya. Uang yang didapat dari hasil lelang itu sebagian dipakai pengganti uang kantor yang digelapkannya dan sebagian lagi dipakai melunasi utang-utangnya. Dia kemudian diberhentikan dari jabatannya. Karena tak bekerja lagi, mereka sekeluarga pindah ke Bandung dan menumpang di rumah anak sulungnya, Abdul Halim, yang ketika itu telah menjadi amtenar.
Di rumah Abdul Halim, Suria mau berkuasa saja. Sikapnya menyakiti perasaan istri dan anaknya. Lebih-lebih istri A. Halim, menantunya, merasa sangat tertekan perasaannya oleh pekerti Suria, ayah mertuanya itu. Segala sesuatu dalam rumah itu diawasi oleh Suria ini dicela, itu ditegur bila tidak sesuai dengan keinginannya. Nasihat istrinya supaya dia tidak mencampuri urusan rumah tangga anaknya diabaikannya. Akhirnya, karena sukatan telah penuh, timbul pertengkaran antara Suria dengan Abdul Halim. Zubaedah yang terlalu makan hati berulam jantung itu, akhirnya jatuh sakit dan …….meninggal. Kematian ibunya itu menyebabkan Abdul Halim mengambil keputusan menyuruh ayahnya meninggalkan rumah itu.
Dengan marah, Suria turun dari rumah anaknya itu. Tujuannya ialah Jakarta, akan mencari pekerjaan di sana, tetapi usahanya sia-sia saja. Uang bawaannya habis dan pekerjaan pun tak dapat. Maklumlah masa itu musim malaise dan “bezuiniging” (penghematan). Akhirnya kembalilah Suria ke kampungnya, ke desa Rajapolah di Tasikmalaya. Di sana dia menumpang di rumah bekas pelayan ayahnya, orang yang dahulu amat direndahkannya dan dianggapnya hina.
Tak tahan hidup dengan batin yang tertekan seperti itu, pada suatu malam, menjelang subuh, Suria meninggalkan rumah, pergi….pergi dan tak seorang pun yang tahu kemana tujuannya. Suria telah pergi, pergi dan tak pernah kembali, hilang tak tentu rimbanya untuk selama-lamanya. Demikianlah akhir hidup Suria yang tragis itu.
Kritik Sastra
Kelebihan :
Jalan ceritanya menarik.
 menggambarkan latar tentang kehidupan di Jawa Barat sebelum perang dunia ke-2 terasa sangat kental sehingga seakan-akan pembaca ikut merasakannya.
 menyampaikan pesan tentang perlunya keseimbangan dalam keuangan, menghargai orang lain dan sindiran untuk kaum priayi yang selalu hidup dengan membon sehingga selalu boros.
Kekurangan :
Komposisi cerita biasa dan mendatar.
 terasa lebih banyak berkata-kata dibandingkan buah pikiran dari tokoh sendiri.
 menggunakan bahasa melayu dan terlalu banyak menggunakan peribahasa sehingga kurang sesuai dengan daerah Priangan karena berpepatah hanya kebiasaan orang Melayu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat lamaran pekerjaan

                                                                                                                          Kuningan, 29 Juli 2019 Hal : Lamaran Pekerjaan Yth. Pimpinan Intansi Farmasi Rumah Sakit Griya Husada Jalan Pulau Indah No. 10 Jakarta Dengan Hormat,           Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari internet bahwa intansi farmasi yang Bapak/Ibu pimpin saat ini memerlukan pegawai sebagai asisten apoteker. Oleh karena itu saya mengajukan permohonan untuk mengisi posisi tersebut . Saya yang bertanda tangan dibawah ini : nama                             ...

Teks Editorial dan Artikel Gejala Alam

1.       Pengertian Teks Editorial Teks Editorial adalah teks yang berisi pendapat pribadi seseorang terhadap suatu isu atau masalah akual 2.       Ciri-ciri Teks Editorial a)       Tema yang aktual dan factual b)       Bersifat sistematis dan logis c)       Tajuk rencana merupakan opini atau pendapat yang bersifat argumentative d)      Menarik untuk dibaca karena penggunaan kalimatnya yang singkat padat dan jelas 3.       Struktur Teks Editorial a)       Pernyataan pendapat (tesis) Bagian berisi sudut pandang penulis mengenai masalah yang dibahas b)       Argumentasi Bagian berisi alasan atau bukti untuk memperkuat pernyataan dalam tesis c)       Penegasan Ulang Pendapat (reiteration) Bagian berisi penegasan ula...

Esai

A. Pengertian Esai Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), esai adalah sebuah karangan atau tulisan yang membahas masalah sepintas dari sudut pandang pribadi penulis. Jadi dari pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa esai adalah tulisan yang mengandung pendapat dan bersifat subjektif atau argumentatif. Esai harus logis dan dipahami dengan baik serta didukung oleh fakta agar esai tidak menjadi tulisan fiktif atau imajinasi belaka dari si penulis.. B. Tujuan Esai Tujuan penulisan esai adalah untuk membuat orang percaya pada sudut pandang penulis tentang suatu masalah. Oleh Karena itu, harus disertai  dengan adanya  data atau fakta yang mendukung. C. Struktur Esai 1. Pendahuluan pendahuluan merupakan pengantar kepada pembaca untuk memahami topik yang akan dibahas sehingga pembaca akan lebih mudah memeriksa isi esai. 2. Isi atau pembahas Isi atau Pembahas ialah bagian dari esai yang menjelaskan tema atau topik penulisan secara lebih rinci. 3. Kesimpulan atau...